CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »
HELLOOOOOOOO
SELAMAT DATANG



Silakan yang mau nitip komentar, kritik, saran, atau uneg-uneg dalam hati,,saya siap tampung dengan ikhlas, ridho dan pastinya rendah hati...................


Juga saya persilakan buat yang cuma mau ngintip blog ini.....


Welcome to my blog................enjoy it..............!!!!!!!!!

Senin, September 12, 2011

Geopolitik dan Geostrategi Republik Rakyat China di Afrika: Kasus Sudan

China merupakan salah satu negara komunis terbesar di dunia selain Rusia. Sebagai negara komunis yang besar, China memiliki kepentingan geopolitik di berbagai negara dalam rangka penyebaran pengaruh komunis ke seluruh belahan dunia untuk membendung ideologi liberalis. Peningkatan China semakin pesat seiring berkembangnya jaman semenjak berbagai reformasi yang dilaksanakan oleh Deng Xiao Ping termasuk dengan melaksanakan sistem ekonomi yang bersifat terbuka, sehingga Amerika Serikat pun menempatkan China pada posisi competitor. Dalam rangka memperbesar jangkauan perekonomiannya, China memiliki kebijakan yang disebut sebagai The String of Pearl, dimana dalam kebijakan ini, China membangun jalur perdagangan melalui perairan Laut China Selatan, Selat Malaka, hingga kemudian mencapai Afrika. Dalam jalur perdagangan ini, China banyak membangun hubungan baik dengan negara-negara di area jalur tersebut. Penyebaran kepentingan geopolitik China salah satunya tertuju pada Sudan di Afrika. Kepentingan China di Sudan juga terdorong akan kepentingan menguasai minyak seiring dengan kebutuhan energi China yang terus meningkat dan kekhawatiran akan kelangsungan hidup industrinya ketika China memiliki pasokan minyak yang kecil. Pada tahun 1980, China telah mengkonsumsi sekitar 1,8 juta barel minyak per hari, dan pada tahun 2008, China telah membutuhkan 8 juta barel minyak per hari demi memenuhi kebutuhan energinya (Oliveira, 2006). Melihat hal tersebut, China kemudian berusaha memasuki pasar minyak Sudan dan mengikatkan diri pada hubungan ekonomi yang semakin erat dengan negara tersebut.

Salah satu perusahaan minyak China, CNPC (China’s National Petroleum Corporation), kemudian mulai aktif di Sudan, lebih tepatnya di daerah Muglad Basin sebagai langkah memasuki pasar global (Dralle, 2009). Dalam waktu singkat, Sudan kemudian menjadi pengekspor minyak yang besar. Dengan adanya kesuksesan ekonomi di Sudan, China menganggap hal tersebut dapat memiliki kerja sama yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak. China juga mendukung pemerintah Sudan untuk membangun jalur pipa yang memudahkan Sudan mengeksporkan minyaknya melalui Laut Merah. Ketika pendapatan nasional Sudan meningkat, maka pada saat itu pula ketergantungan Sudan pada perusahaan ekspor minyak yang ada semakin meningkat, termasuk di dalamnya CNPC milik China. Melihat hal tersebut, China mulai menerapkan kebijakan Public-Diplomacy-Initiatives dalam rangka mengambil simpati pemerintah Sudan, yaitu dengan cara: membantu membangun fasilitas pelayanan masyarakat seperti rumah sakit, stadion olahraga, serta membantu negara-negara Afrika dalam memerangi penyakit Malaria dan AIDS (Dralle, 2009). China banyak memberikan bantuan karena dianggap hal ini dapat menarik perhatian Sudan untuk semakin menerima dan mendukung China, mengingat ketika itu Sudan sedang dilanda berbagai permasalahan mulai dari masalah penyakit, konflik internal dan lain-lain.


Nyatanya, berbagai kegiatan sosial yang dilakukan oleh pemerintah China di Sudan memang membuahkan hasil. Adanya berbagai kerja sama yang dilakukan oleh kedua belah pihak membuat hubungan China-Sudan semakin membaik dan secara halus China berhasil menggenggam Sudan. China juga menawarkan pinjaman dengan bunga rendah serta bantuan pembangunan tanpa disertai berbagai persyaratan. Selain itu, China tidak meminta diadakannya reformasi demokratis maupun adanya transparansi pada pemerintah Sudan dan berusaha untuk memberikan kesan bahwa antara China dengan negara-negara kawasan Afrika merupakan mitra yang sejajar. China cenderung tidak terlalu ingin mencampuri urusan perpolitikan internal Sudan dan hanya lebih peduli dalam mengedepankan kerjasama di bidang ekonomi. Hal inilah yang mendukung Sudan memiliki ketergantungan yang semakin meningkat kepada China dan menganggap China adalah mitra kerja sama yang dapat diandalkan, sehingga pada tahun 2008, Hu Jintao menyatakan bahwa mutual respect, kesamarataan serta hubungan resiprositas akan menjadi batu pijakan hubungan China dan Sudan yang lebih erat. Sudan yang semula hanya menjadi negara pengimpor minyak bumi, kemudian berubah menjadi negara pengekspor minyak bumi semenjak CNPC masuk ke Sudan. Bahkan hingga tahun 2008, ekspor minyak Sudan telah mencapai angka 480.000 barel per harinya, dengan rincian tingkat konsumsi minyak di Sudan sendiri hanya sekitar 86.000 barel per hari sedangkan sisanya diekspor ke pasar Asia, terutama China (www.eia.gov).

China juga memanfaatkan negara-negara Afrika serta negara lain di sekitar jalur String of Pearl untuk menggalang dukungan dalam rangka memperkuat posisi China di mata dunia internasional terutama di PBB. Di samping itu, tentu saja Sudan juga digunakan oleh China sebagai salah satu negara untuk membendung kekuatan liberalis Amerika Serikat, mengingat Sudan juga pernah menjadi incaran Amerika Serikat dan pernah mendapat perlakuan yang kurang adil dari Amerika Serikat, misalnya dengan pengeksploitasian minyak di Sudan oleh Amerika Serikat dengan tanpa memberikan kontribusi yang menguntungkan pemerintah Sudan. Hubungan buruk Amerika Serikat-Sudan tersebut mencapai puncaknya ketika pada tahun 1997 pemerintah Amerika Serikat dikenakan sanksi ekonomi, perdagangan dan keuangan serta dilarang untuk melakukan kegiatan bisnis apapun di Sudan.

Tidak hanya sampai pada Amerika Serikat saja, bendungan China juga ditujukan pada Jepang. Karena di samping isu Taiwan yang menjadi prioritas China, rupanya China juga ingin membatasi pengaruh Jepang di benua Afrika demi mencegah Jepang menggalang suara dari Afrika dalam rangka kepentingan Jepang untuk dapat menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB (United Nations Security Council). Karena itulah China sangat mempertahankan Afrika agar dapat terus bergantung pada China dan selalu memberikan dukungan kepada China (Dralle, 2009).

Referensi:

Dralle, Tilman. (2009). Sudan, Angola, and China: Oil, Power and the Future of Geopolitics. Dresden.

Oliveira, Ricardo Soares. (2006). The Geopolitics of Chinese Oil Investment in Africa. Lisabon: Instituto Portugues de Relacoes Internacionais.

U.S. Energy Information Administration. Sudan Analisys Brief. http://www.eia.gov/countries/country-data.cfm?fips=SU diakses 5 Juni 2011.

0 Comments: